Recent

CERBUNG (Fa, Sebuah Nama Luka)

FI, SEBUAH NAMA LUKA
         (14-09-2014)

Se-jadi jadinya DIA meneteskan air mata kristal melewati garis garis kedua pipinya, senyaplah Sudah derita yang lama diruang penghambaan kepada saudara kandungnya. Iya benar, hingga kudapati harapan yang kembali bercahaya dari bekuan kuat kelabu masa lalu dengan saudara kandung durja, si herman .

"Fi, Sedang melantunkan harapankah kau disitu, hingga tak hentinya kau menatap bintang terang dilingkaran awan gelap itu?" Tanyaku tenang sembari jariku menunjuk bintang ceria itu.

"Sudah kubuang jauh ingatan masa lalu tentang kelemahanku Dik. Kini kusadari Tuhan telah mengirimkan Bintang itu untuk menerangi hari hariku kedepan" ucapnya tegas, setegas dia menunjuk bintang itu seperti yang sebelumnya kulakukan.

Gumamku dalam hati "inikah kebenaran hati yang menjerat lelah untuk pemujanya?" Pertanyaan tentang kenyataan yang sekarang berdiri disampingku mulai menalar ke akar akarnya, serabut namun bersudut begitulah kira kira. Sedang mataku tak ubahnya seperti patung yang lurus memperhatikan wajah DIA yang masih lurus mengarah kedepan. Sesekali kudengar suara desah nafas panjang yang secara tertib di keluar masukkan dari lubang hidungnya. Aku membalikkan tubuh hingga berlawanan arah dan menyandarkannya di pagar besi yang dipangku erat dada dan kedua tangannya. Sekarang aku mulai tertegun mendengar suara batinku dikejauhan sana yang seolah menyuruhku untuk memeluknya dengan kelembutan dan kehangatan tapi kusadari itu tidak akan mungkin kulakukan sebelum DIA menjadi yang sah untuk kusentuh kulit langsatnya.

Beberapa saat suasana sunyi dan waktu tetap berjalan  lancar bersama kepatuhan terhadap ketetapanTuhannya, Sedang seiring dengan itu kudengar isak tangis dari arah DIA, Pelan, tegas dan menghakimi tapi entah tangis itu kurasan bukan sebuah derita tapi sebuah kebebasan dan kebahagiaan.

"Dik, Jaga hatiku ya" Kalimat itu menghentikan denyut jantungku serta membungkam seribu kata kata di pintu imajinasiku. Kebenaran apa yang baru saja kudengar ini, ketulusan apa yang sengaja menghampiriku, ataukah hanya sebuah persepsi batinnya? Tuhan ! Kalimat apakah yang harus kukeluarkan untuk menjawab kenyataan disampingku ini.

Kini Kubalikkan badanku 180 derajat seperti posisi awal saat mendatanginya Dan..............
Share on Google Plus

About Dialektika

0 komentar:

Posting Komentar