Recent

3 PUISI, EDISI COBAN TALUN




OBAT TANYA

Tanpa waktupun jarak akan menemukan rahasia wajah itu
Mungil dan bijaksana
Semua membuatnya tak adil
Semua hanya untuk keluasan hati
Dan bangkitnya pertunjukan senyum
“Ah, seru” katanya

Jika kebodohan yang mendekam
Maka aku tidak akan mempercayai waktu
Walau untuk kekuasaanku menyetubuhi tubuhnya
Dalam kamus arusku
Waktu telah menodai musim
Dan selamanya aku tidak akan menjumpai terik siangnya.

Dapur Pahlawan, 28-09-2014









TERIAKAN LKMM
Mereka menyentuh kening kuning emas aroma tubuhmu
Sewaktu hendak lelaki itu serukan kenangan
Tubuh gigil di perbukitan hati, dan menggapai tangisan lelaki itu

Masih membatu seperti waktu berlalu
Reranting pohon karet menyaksikan perhatianku
Daun daun tua yang tanggal dari tangkainya mengikuti gigilku
Tetap mengikuti lekuk tubuhku tapi tidak ada pihak diperasaanku

Menemui malam, seperti langkah mendekat pelan
Engkau pula yang datang membiarkan selapis bibir mungilmu uttuk ku intip
Hendak kuciumi aroma itu, jarak mengencangkan ukuran tatapan kita
Setelah berakhir jarak, engkau merasa lemas sedang telunjuk pohon mengusirku
Untuk segera enyah dari perasaan itu, sebut saja aku mencintaimu


Bumi Pahlawan,






DIBALIK BEKUAN SUHU COBAN TALUN
Coban talun mengemas mimpi seorang penunggang kuda
Ketika ditanya tentang dahaga dan seribu seruan nasib
Kuda menganga dan meluruskan langkahnya
                Kuhentikan gerakan kuda jantan yang meleawati hatiku
                Biarkan saja menganga dan bermukim menunggu musim
                Sudah saatnya menggantikan kebosanan hati
                Yang diterbitkan lubang lubang gelap ketika hendak kupinta cahaya

Na, kutemukan dirimu berdiri disamping bekuan suhu coban talun
Dan tetap saja terabaikan cita citaku menuju puncak tegak coban talunmu
Padahal ribuan pengembala kuda lainnya sedang menunggu keberhasilanku
Merangkul dan menurunkan keangkuhan coban talunmu
Hingga sampai di bawah kedamaian hati
Yaitu menghidupkan benih hatimu di sebidang dadaku.

Dapur Pahlawan, 02-10-2014


Share on Google Plus

About Dialektika

0 komentar:

Posting Komentar