Menyisir Pagi, Setelah malam memanjakan gairah besar dalam diri ini. Dan tentu Mata dan Lelah bersatu untuk tetap berguling guling di tempat tidur sampai pagi hampir beranjak pergi. Setelah memberanikan untuk duduk bersandar sembari melengkapi sebagian Rohku yang berkeliling dijagad kurasakan ada 3 titik yang melambungkan sinyal merah ke satu titik yang namanya indra perasa sehingga terciptalah nyeri. 3 titik itu adalah satu di kepala bagian perbatasan dengan leher belakang, dua di bagian tengah penggungku dan tiga di bagian alas bawah kakiku. Ketiganya benar benar menghasut untuk rebah lagi menemani bantal yang sudah kutempatkan dipojok kamar.
Sepertinya ada yang ketinggalan ne, iya jam !!!! aku belum mengintip arah jarumnya.
" Astaga!!! Ilham, bon, rio dan ahmad kemana?" Tenggorokanku melebarkan sayap hingga mengeluarkan suara yang lumayan keras hingga kudengarkan ada satu balasan suara dari kejauhan sana kalau dihitung jaraknya sekitar 90 meter dari aku berdiri di pinggiran pintu.
" Apa Van, kok teriak teriak disitu " Suara serak itu pasti si Ilham.
"Ilham, itukah kamu?"Tanyaku agak pelan sembari menyusuri asal suara itu.
"Iya Van, ada apa?"
"kamu tidak kuliyah hari ini ?"
"Kuliyah lah, tapi entar jam ke-dua 10.40 kuliyahnya karena jam pertama katanya Lusi tidak ada, Ibu Endang lagi Dinas di Luar kota Van" Ilham menuturkan dengan Serius sampai tak ku dengar suara aliran air di kamar mandi itu.
0 komentar:
Posting Komentar